UU BHP : pupuk yang menyuburkan kebobrokan pendidikan

UU BHP:
Pupuk yang menyuburkan kebobrokan pendidikan Indonesia
Oleh : Widianto noviansah
Mahasiswa Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut teknologi Bandung
Peserta PPSDMS Angkatan IV Regional 2 Bandung

Dahulu adalah BHMN ( Badan Hukum Milik Negara ) sekarang BHP ( Badan Hukum Pendidikan ). Apapun namanya, semua itu telah membuat pendidikan menjadi tak berdaya. Pendidikan yang seharusnya bisa membentuk masyarakat Madani, sekarang menjadi lumpuh tak berdaya melihat kacaunya kondisi sosial masyarakat.
Pendidikan seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun, pada kenyataannya pemerintah meremehkan pendidikan bahkan lembaga negara yang berisi wakil rakyat ikut-ikutan tak peduli pada pendidikan masyrakat. Di saat sebagian pendidikan rakyat sangat memprihatinkan, mereka malah meminta kenaikkan gaji. Begitukan sikap wakil rakyat. Kita bisa lihat kerusakan infrastruktur pendidikan di mana- mana. Mulai dari ruang kelas yang bocor, yang dinding kelasnya hampir roboh, bahkan ada yang melaksanaka proses belajar mengajar di bekas kandang ayam. Alasan klasik yang dipakai pemerintah untuk menjawab kondisi-kondisi itu adalah pemerintah tidak punya uang. Namun berbeda halnya dengan masalah politik, selalu ada uang untuk politik. Untuk urusan pemilu, dana berapapun jumlahnya dengan mudah akan mengucur. Sungguh ironis memang.
Sebuah tanda tanya besar untuk pemerintah terkait prioritas pendidikan dalam pembangunan. Jika kita menengok pada sebuah negara yang maju seperti jepang, kita akan melihat bahwa mereka sangat mengutamakan pendidikan. Bahkan setelah jepang hancur lebur oleh keganasan bom atom amerika serikat, satu pertanyaan yang ditanyakan oleh kaisar jepang saat itu adalah “ Berapa jumlah Guru yang masih tersisa di Hirosima dan Nagasaki ?” Pertanyaan itu membuktiakan bahwa jepang sangat mengutamakan pendidikan bangsanya. Karena mereka sadar bahwa pndidikan merupakan unsur penting dalam pembangunan.
Berbeda dengan kita. Selama lebih dari setengah abad bangsa Indonesa selalu mengabaikan pendidikan. Pembangunan lebih difokuskan pada sarana dan prasarana fisik. Sementara pendidikan dibiarkan membusuk begitu saja. Di tambah sekarang muncul Undang – Undang BHP yang dinilai sangat memberatkan msayarakat. Sebelum undang – undang BHP ada pun, sebenarnya sudah banyak kecurangan – kecurangan dalam pendidikan, seperti adanya pemungutan biaya -biaya pendidikan yang tidak seharusnya ada. Undang – Undang BHP ini seolah – olah menjadi payung hukum untuk melakukan praktik tersebut. Memang dalam salah satu bagiannya , disebutkan bahwa harus ada 20% masyarkat tidak mampu dalam suatu institusi pendidikan BHP. Namun, hal itu masih sangat diragukan dalam pelaksanaannya. Yang terjadi selama ini adalah pemerintah tidak melaksanakan dengan baik. Dana 20 % yang selama ini diamanatkan oleh Undang-Undang tak kunjung terwujud. Jadi, ada semacam pesimisme dan keberatan dari masyarakat terhadap Undang – Undang BHP yang baru disahkan itu.
Sebenarnya ada sebuah uji publik terhadap UU BHP, tetapi tidak ada sosialisasi dari pemerintah mengenai hasil uji publik itu. Jika ditanya tentang BHP. Maka yang terbayang di benak sebagian besar masyarakat adalah pendidikan yang mahal. Seolah semua perturan – peraturan ini merampas hak orang – orang yang tidak mampu secara finansial untuk menkmati pendidikan. Padahal, idealnya melalui jalur pendidikan inilah, masyarakat yang tidak mampu bisa mengubah kondisi hidupnya menjadi lebih baik . Namun pada kenyataannya, yang bisa menikmati pendidikan adalah orang –orang yang mampu. Sehingga kemapanan hanya bergerak di lingkaran – lingkaran orang kaya saja. Dan tidak bisa menyebar pada lingkaran orang – oarang miskin. Contohnya, untuk masuk pada universitas trnama yang memerlukan dana cukup besar ( berbagai macam sumbangan ratusan juta rubiah ). Dalam kondisi seperti itu, hanya orang – orang kaya yang bisa menyanggupi. Sehingga keberhasilan – keberhasilan dalam pendidikan hanya bisa dinikmati oleh orang kaya. Sementara orang-orang tidak mampu, tidak bisa meningkatkan intelegensi dan kemampuan melalui pendidikan. Akibatnya mereka sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan tentu saja kehidupan miskin tidak berubah bahkan bertambah parah.
Lumpuhnya pendidikan di Indonesia ini berarti hilangnya satu generasi penerus bangsa. Jika keadaan ini terus berlanjut, maka akan berdampak pada kelangsungan hidup bangsa ini. Pernah suatu saat di radio, saya mendengar seorang ayah yang berkata “ Semoga disahkannya Undang – Undang Badan Hukum Pendidikan ini merupakan bencana terakhir tahun ini yang melanda negeri ini.” Bahkan sampai dianggap sebagai sebuah bencana yang membahayakan negeri ini. Memang benar. Ini akan menjadi sebuah bencana besar yang menghancurkan intelegensi jutaan pemuda-pemuda yang kelak akan menjadi penerus negeri ini. Tidak bisa dibayangkan lagi , jika di tiap tempat umum atau di perempatan jalan ada anak – anak yang menengadahkan tangan dan berharap uang receh dari orang yang masih mempunyai belas kasihan. Anak-anak itu seharusnya ada di bangku pendidikan untuk mendapatkan pengajaran yang mereka perlukan untuk menghadapi kehidupan, bukannya berkeliaran untuk menyambung hidup sehari-hari. Kita berharap pemerintah berpikir dengan otak dan hatinya dalam memihak rakyat. Semoga Undang – Undang BHP ini tidak menjadi pupuk yang akan menyuburkan kebobrokan pendidikan yang telah terjdi sebelumnya.

Iklan

Artikel Ramadhan

Ramadhan:

Menjadi Solusi bagi Bangsa Indonesia

atau

Hanya Sebuah Momen Yang Segera berlalu

Oleh : Widianto noviansah

Mahasiswa Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut teknologi Bandung

Peserta PPSDMS Angkatan IV Regional 2 Bandung

Ramadhan.. Ya itulah bulan penuh kemulyaan yang dirindukan oleh seorang muslim sejati. Di dalamnya tercurahkan segala rahmat dan ampunan dari ALLAH Tuhan Semesta Alam. Di dalamnya terdapat malam yang lebih mulia dari malam seribu bulan “ lailatul Qodar”. Tidaklah kalau para sahabat rasulullah saw ingin agar bulan Ramadhan ini berlangsung sepanjang tahun. Maka tidaklah mengherankan jika para sahabat mempersiapakan diri dengan persiapan terbaik untuk menyambut kedatangan bulan yang mulia ini.

Di dalam kemuliaan bulan Ramadhan, kita diwajibkan untuk melaksanakan shaum yang akan menjadikan kita sebagai makhluk yang bertaqwa di sisi Allah swt. Dalam Surat Al-baqarah ayat 183, Allah Berfirman

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,( Q.S.Al-Baqarah:183)

Dalam ayat ini Allah SWT menggunakan kata “ kutiba “ untuk menyebutkan perintah diwajibkan. Dalam kaidah bahasa Arab “ kutiba “ ditafsirkan dengan “ menuliskan sesuatu di atas sesuatu “ . Jika kita menuliskan sesuatu pastilah meninggalkan bekas. Seperi itulah seharusnya Ramadhan berbekas di setiap hati kaum muslimin. Melalui puasa Ramadhan ini kita dilatih untuk menahan diri dari hawa nafsu, dilatih untuk sabar,dilatih untuk berempati kepada saudara-saudara kita yang lain, dilatih untuk merasakan laparnya saudara-saudar kita yang tidak mampu. Di sini lengkap berbagai macam pelatihan yang akan menentukan kesuksesan kita di dunaia dan akhirat kelak.

Jika Ramadhan ini benar – benar membekas di tiap hati rakyat Indonesia, hilanglah sudah segala permasalah bangsa ini. Harusnya Ramadhan ini menjadi Kawah Candradimuka yang menghasilkan Gatotkaca ( seorang tokoh pewayangan jawa yang terkenal dengan kesatria sakti mandraguna ”otot bagaikan kawat dana tulang bagaikan besi “). Jika kita benar-benar memanfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya, maka kita akan mendapat kemuliaana di sisi ALLAH, namun jika kita berleha-leha di bulan Ramadhan kita pun tidak akan memperoleh apapun. Sebenarnya pemaknaan Ramadhan ini bergantung pada pribadi masing-masing. Ada orang yang benar – benar menyambut ramadhan dengan penuh keikhlasan untuk mendapatkan rahmat Allah SWT. Namun ada juga segolongan orang yang menyambut Ramadhan hanya demi keuntungan duniawi.

Dari segi ruhiyah , di bulan Ramadhan ini kita diberi berbagai macam kemuliaan yang tidak diberikan kepada umat sebelum kita agar dapat mendekatkan diri kepada ALLAH dengan maksimal. Jika umat sebelum nabi Muhammad saw bisa beribadah selama ribuan tahun, umat Nabi Muhammad saw bisa menyamai tingkat ibadah itu di bulan Ramadhan. Di bulan ini telah diturunkan Al-quran yang menjadi pedoman bagi seluruh alam, diturunkannya malam lailatul Qodr “malam yang lebih baik daripada seribu bulan”, dibukanya pintu maaf yang selebar – lebarnya, ditebarkannya rahmat ALLAH yang begitu luas dan masih banyak lagi. Selama bulan Ramadhan beratus-ratus, beribu-ribu, berjuta-juta bahkan milyaran umat muslim dari berbagai belahan bumi ini berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas ibadahnya agar menjadi orang bertaqwa di sisi ALLAH. Indahnya lantunan ayat suci al-quran menghiasi tiap malam Ramadhan, masjid – masjid yang biasanya sepi, berubah menjadi ramai bagaikan toko yang memberikan diskon besar-besaran dan diserbu oleh para pembeli. Tiap orang melaksanakan perang terbesar sepanjang sejarah manusia “ perang melwan hawa nafsu” sekaligus berlomba-lomba untuk mendapatkan malam lailatul Qodr. Semua ini menimbulkan suatu kesolehan pribadi bagi tiap-tiap pribadi yang melaksanakannya.

Lalu apa hubungannya Ramadhan dengan proses perubahan masyarakat menjadi masyarakat madani. Sebuah pertanyaan yang menarik. Sebagian besar orang memandang bahwa Ramadhan dengan puasanya hanya menumbuhkan kesolehan pribadi saja. Namun, sebenarnya di bulan Ramadhan ini tumbuh kesolehan sosial yang luar biasa. Bisa juga bahwa momen Ramadhan ini sebagai suatu dinamisator (sesuatu yang mendinamisasi) dalam masyarakat. Lihat saja fenomena-fenomena yang muncul. Hari-hari sebelum Ramadhan mulai banyak spanduk tentang penyambutan bulan Ramadhan yang penuh keagungan ini. Ini seolah memberikan setting ruang yang baru dalam lingkungan kita, aroma religius mulai terasa di sekeliling kita. Ketika kita menyalakan televisi, hampir semua stasiun televisi menyuguhkan tayangan-tayangan religi. Iklan yang mengandung tema Ramadhan bertebaran bak jamur yang tumbuh di musim hujan. Wajah persinetronan tiba-tiba dihiasi oleh aktris yang berjilbab, aktor berpeci,dan semua hal yang berbau Islam. Tempat – tempat hiburan tutup. Atau perhatikan orang-orang di sekitar kita, pasti akan ada perubahan walaupun sedikit.

Semua itu adalah dampak yang terlihat secara langsung pada kondisi masyarakat. Ramadhan mempunyai effek sosial yang berupa simpati dan empati. Dengan puasa kita dilatih untuk lapar, haus , merasakan lemasnya tubuh ini, serta sabar dalam menghadapi segala masalah yang menghadang. Hal ini bisa menumbuhkan rasa simpati. Rasa simpati ini sangat diperlukan dalam lingkungan sosial. Dengan rasa simpati kita bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain sehingga timbul suatu keinginan untuk membantu.

Beranjak dari rasa simpati itu akan timbul tingkat persaan yang lebih dalam lagi , yaitu rasa empati. Jika simpati tadi hanya sampai pada keinginan untuk membantu, empati sudah sampai pada tindakan nyata. Artinya empati ini selain bisa menempatkan diri pada posisi orang lain yang sedang kesulitan, juga melakukan tindakan nyata untuk menyelelesaikan permasalahan. Bisa dikatakan bahwa simpati dan empati adalah dasar dalam saling pengertian di lingkungan sosial, jiwa dari terbentukya interaksi masyarakat yang harmonis. Sebuah masyarakat yang memiliki keharmonisan akan menghasilkan sebuah perdaban yang hebat.

Jika rakyat Indonesia bisa memanfatkan Ramadhan yang luar biasa ini, selesailah masalah bangsa ini, selesai pulalalah penderitaan kaum tertindas. Jika kesolehan sosial di bulan Ramadhan bisa didapatkan, maka akan timbul keharmonisan sosial. Tidak akan ada lagi kekerasan, pemerkosaan, penipuan, tau korupsi. Namun selama ini hal itu masih belum bisa tercapai, sringkali kita melihat hal yang sangat miris, misalnya kita lihat di Indonesia ini banyak sekali orang yang mendapatkan gelar haji. Bahkan berhaji lebih dari satu kali, tetapi mereka membiarkan tetangga di sekitar mereka bergelimangan dalam kemiskinan. Ini menandakan hilangnya rasa simpati dan empati.

Sudah cukup bangsa ini menderita. Cukup sudah ibu pertiwi menangis melihat penderitaan rakyatnya. Tentu nya kita ingat bahwa Indonesia pernah mendapatkan julukan sebagai zamrud khtulistiwa. Karakteristik batu zamrud adalah hijau, enak dipandang. Sebutan itu mengandung arti bahwa bangsa Indonesia sangatlah indah bagaikan hamparan zamrud di khatulistiwa. Sebuah sebutan yang memberitahukan bahwa Indonesia sebuah negara yang kaya akan alam dan mampu menghidupi seluruh bangsanya.Bahkan samapai ada yang menyebutkan bahwa air mata ibu petiwi adalah mas dan intan. Atau yang sering kita dengar adalah “ tongkat kayu jadi tanaman “. Semua itu tinggal kenangan. Sekarang zamrud yang sangat indah itu telah dikotori oleh sekelompok orang yang hanya memntingkan diri sendiri.

Mari kita, sebagai anak negeri, membuat zamrud khatulistiwa itu kembali berkialau seperti sedia kala. Jangan biarkan ibu pertiwi bersedih lagi. Tidak ada yang berhak melakukan itu selain kita.

Mari kita gunakan Ramadhan sebagai sarana pembinaan diri untuk menghadirkan kesolehan sosial dalam masyarakat. Jangan biarkan Ramadhan ini berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas.

Semua itu memang berat, tapi bisa dilakukan. Selama kita bersandar kepada ALLAH SWT semua akan terasa indah.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!